Thursday, January 24, 2013

PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN TEKNIK MANAJEMEN DIRI UNTUK MENINGKATKAN EFIKASI DIRI DALAM BELAJAR



PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN TEKNIK MANAJEMEN DIRI UNTUK MENINGKATKAN EFIKASI DIRI
DALAM BELAJAR



ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) pengaruh layanan BK dengan teknik manajemen-diri untuk meningkatkan efikasi-diri dalam belajar pada siswa, (2) perbedaan pengaruh teknik BK manajemen-diri untuk meningkatkan efikasi belajar ditinjau dari latar belakang sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuasi eksperimen dengan rancangan pretest-postes control group, subyek penelitian 160 siswa SMAN, pengumpulan data menggunakan angket, teknik analisis data menggunakan teknik statistik Anacova. Hasil Penelitian (1) Tingkat efikasi belajar pada tes awal sebesar 64%, dan tes akhir 70,2%. (2) Layanan BK dengan tekni manajemen-diri berpengaruh untuk meningkatkan efikasi-diri dalam belajar (F=37.03 signif. 000), (2) tidak ada perbedaan pengaruh pengunaan metode manajemen diri dilihat dari latar belakang sekolah (F=1,553, signif 0,215). Direkomendasikan agar teknik manajemen-diri digunakan dalam layanan BK di SMA untuk meningkatkan efikasi belajar siswa.
 Kata kunci: Layanan BK, manajemen-diri, efikasi, belajar

LATAR BELAKANG MASALAH
Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), dihadapkan pada situasi kehidupan dan belajar yang kompleks, sarat dengan tugas, beban, tantangan, dan sekaligus peluang, yang oleh Jarvis (1992) disebutnya sebagai paradoks belajar. Banyak siswa yang mengalami masalah dalam belajar, di antaranya rendahnya efikasi-diri dalam belajar yang ditandai adsanya motivasi belajar kurang, menunda tugas, menghindari beban belajar, mudah menyerah dan sebagainya, sehingga prestasi belajarnya tidak optimal. Sisi lain dijumpai pelaksanan layanan bimbingan dan konseling (BK) belum optimal, karen guru BK menghadapi berbagai permasalahan dan hambatan, diantaranya korangnya kompetensi profesional.
Melihat kenyataan tersebut, sekolah dituntut untuk meningkatkan layanan bimbingan dan konseling.Dari sisi siswa dituntut untuk memiliki efikasi-diri dalam belajar, agar mampu menghadapi tuntutan tugas-tugas belajar.Dikatakan Nelson dan Jones (2011:437) “Untuk melaksanakan kinerja yang ahli orang perlu memiliki keterampilan yang dipersyaratkan dan keyakinan akan efikasinya untuk menggunakannya”.Berbagai penelitian menunjukkan bahwa efikasi belajar menentukan hasil belajar (Anik Susilawati, 2009; Schutz, 1997; Schunk, 1995; Bandura, 1997).Efikasi-diri berkorelasi dengan strategi belajar yang efektif (Pintrich & De Groot, 1990).
Untuk meningkatkan efikasi-diri dalam belajar siswa SMA, diantaranya dilakukan melalui layanan BK. Dalam layanan BK memerlukan strategi bimbingan dan konseling yang efektif.Terdapat beragam teori, strategi, model dalam layanan BK. Karsau (McLeod, 2003:11) menyebut ada 400 model konseling dan psikoterapi.Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu teori, teknik, strategi yang terbukti efektif untuk semua orang dan semua situasi.Secara kusus belum ada model BK yang kusus untuk meningkatkan efikasi dalam belajar. Situasi dan tuntutan belajar yang kompleks, memerlukan pemilihan teknik BK yang efektif, memerlukan layanan yang memandirikan (Peraturan Mendiknas, No 27 tahun 2008), dengan melibatkan keaktifan siswa secara penuh (Dave Maier, 2002; Woolfolk, 1995). Salah satu strategi yang demikian adalah strategi manajemen-diri (self-management).Dalam strategi ini, siswa secara aktif merancang dan melaksanakan kegiatan belajar.Straegi ini mendasarkan behaviorisme kontemporer (Corey, 1995), sedangkan McLeod (2007) menyebut kognitif behavioral.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) sejauh mana tingkat efikasi-diri dalam belajar siswa SMA, (2) Apakah layanan BK dengan teknik Manajemen Diri efektif untuk meningkatkan efikasi-diri dalam belajar siswa Sekolah Menengah Atas, (3) Apakah ada perbedaan efektifitas teknik BK manajemen-diri untuk meningkatkan efikasi-diri dalam belajar antar siswa SMA standar, siswa SMA mandiri dan siswa SMA RSBI?
Tujuan penelitian untuk mengetahui efektifitas layanan BK dengan teknik manajemen-diri untuk meningkatkan efikasi-diri dalam belajar menuju keberhasilan belajar.Manfaat penelitian ini untuk memperkaya model-model konseling belajar yang telah ada, digunakan guru BK dalam layanan BK untuk meningkatkan efikasi-diri dalam belajar.Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru BK dalam layanan BK, menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan efikasi-diri dalambelajar pada siswa, dan sekaligus mengatasi hambatan layanan BK di sekolah.Secara teoritis untuk memperkaya khasanah keilmuan bimbingan dan konseling.
KAJIAN TEORETIK
Efikasi-diri dalam Belajar
Bandura (1995:3) mendefinisikan efikasi-diri “refer to beliefs in one’s capabilities to organize and execute the courses of action required to produce given attainment”. Efikasi-diri adalah keyakinan seseorang akan kemampuannya untuk mengorganisasi dan melakukan tindakan-tindakan yang perlu dalam mencapai tingkat kinerja tertentu. Hacney & Cormier (2009:253) mengatakan “self-efficacy refers to the perception a client has about the ability and confidence to handle a situation or to engage in task successfully”. Zimmerman (2009:204) mendefinisi-kan sebagai “personal judgement of one’s capabilities to organized and excecute coursess of action to attain disignated types of educational performance”. Efikasi-diri akademik adalah keyakinan seseorang akan kemampuannya dalam mengorganisir dan melaksanakan kegiatan belajar untuk mencapaihasil belajar yang dirancang. Efikasi-diri dalam belajar berarti keyakinan seorang pelajar akan kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas belajar dan keyakinan untuk mencapai tujuan belajar atau keberhasilan belajar.
Efikasi-diri akan menentukan tujuan dan hasil, dan akan menentukan bagaimana fasilitator dan penghalang di lingkungan itu dilihat (Bandura, 2004). Nelson & Jones (2011:438) mengatakan “Orang dengan efikasi-diri tinggi melihat bahwa penghalang dapat diatasi dengan terus berusaha dan dengan meningkatkan ketrampilan manajemen-dirinya.Orang dengan efikasi-diri rendah berhenti berusaha saat menghadapi rintangan”.Pelajar yang memiliki efikasi-diri dalam belajar yang tinggi berarti memiliki keyakinan diri yang kuat bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas belajar yang sulit dan beragam, dan yakin mampu mencapai hasil yang optimal.Efikasi-diri juga merupakan instrumen yang multi tujuan, sebab tidak hanya terkait dengan kompetensi, tetapi mampu membangkitkan keyakinan dimana orang mampu melakukan sesuatu dalam beragam kondisi.Efikasi-diri sebagai mesin yang kuat dalam sistem pembangkit kemampuan manusia, dan kegagalan mesin dapat terjadi ketika efikasi seseorang rendah. Nelson &Jones (2011) menjelaskan efikasi memberikan kontribusi pada bagaimana orang bekerja dengan cara yang sangat beragam, mempengaruhi perilaku memilih, membantu terjadinya keterlibatan dalam berbagai kegiatan, memperkuat resiliensi (daya pegas), mempengaruhi bagaimana orang berfikir dan merasakan.
Secara umum, Bandura (1997) mengemukakan ada tiga dimensi dalam efikasi-diri, dan mengembangkan skala untuk mengukur efikasi-diri akademik menggunakan dimensi-dimensi tersebut, yaitu: (1) Tingkat kesulitan tugas yang dihadapi (level). Efikasi-diri terkait dengan tingkat kesulitan tugas yang harus dihadapi atau diselesaikan seseorang. (2) Keluasan dan beragamnya bidang tugas (generality), yaitu dimensi yang terkait dengan luas dan beragamnya bidang tugas yang dihadapi individu. (3) Tingkat variasi kekuatan (strength), yaitu dimensi yang terkait dengan keyakinan diri seseorang akan kemampuan untuk dapat mencapai kesuksesan atau hasil yang optimal, meskipun tugas belum dihadapkan padanya.
Perubahan perilaku, menurut Bandura kuncinya adalah perubahan efikasi-diri.Efikasi-diri bukanlah suatu yang ada dengan sendirinya, tetapi dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan, melalui beberapa faktor.Berbagai penelitian (Pajares, 1996; Schunk, 1995, Zimmerman, 2000) menunjukkan bahwa efikasi-diri mempengaruhi motivasi belajar, kegiatan belajar, dan prestasi belajar.Efikasi-diri berpengaruh terhadap perilaku, yaitu dalam hal pemilihan perilaku, usaha yang dilakukan dan daya tahan, pola pikir dan reaksi emosional, dan memproduksi perilaku (Bandura, 1996).Saling pengaruh antara efikasi-diri, prestasi akademik dan perilaku, ditunjukkan dalam penelitian Schunk et.al, (1987).Performansi tertentu juga dapat meningkatnya efikasi- diri (Pajares & Schunk, 2001).
Bandura (1997) mengetengahkan empat faktor yang mempengaruhi efikasi- diri, yaitu pengalaman menguasai prestasi, pengalaman vikarius, persuasi sosial, dan keadaan emosi.Pajares & Schunk (2001) mengatakan bahwa perbedaan efikasi-diri siswa dalam belajar merupakan fungsi dari pengalaman sebelumnya, kualitas personal, dan dukungan sosial.Dukungan sosial termasuk strategi pengajaran/bimbingan.
Bimbingan dan Konseling dengan teknik Manajemen-diri
Teknik manajemen-diri adalah strategi pengubahan perilaku yang dalam prosesnya menekankan konseli untuk mengadministrasikan strategi dan mengarahkan usaha perubahan perilakunya, dengan bantuan secara minimal dari konselor. Hackney & Cormier (2009:269) mengatakan “The primary characteristic of these self-management strategies is that the client administers the strategy and directs the change efforts with minimal assistance from the counselor”. Shelton (1979:129) mendefinisikan “behavior self-management refers to behavior which allows client to assume responsibility for their own actions through the manipulation of external or internal event”. Cormier & Cormier (1985:519) menambahkan suatu tekanan pada aspek prosesnya, yaitu proses konseli mengarahkan dan mengubah perilakunya.
 Strategi manajemen-diri memiliki prosedur kerja yang sistematis berupa langkah-langkah kerja, sehingga mudah dilakukan dan memungkinkan efektif. Corey (1996) merangkum pendapat beberapa ahli mengenai langkah-langkah strategi manajemen-diri, yaitu: (1) Merumuskan atau menentukan tujuan, yaitu merinci perubahan perilaku yang diharapkan. (2) Menjabarkan tujuan dalam perilaku sasaran. Tujuan yang dirumuskan dispesifikasikan dalam perilaku sasaran, (3) Memantau diri, yaitu mengamati dan merekam perilakunya secara tepat (4) Membuat rencana perubahan lanjutan.
Terdapat beberapa teknik manajemen-diri, Kanfer (1980:339) mengemukakan “Most self-management programs combine techniques that involve standard-setting, self-monitoring, self-evaluation, and self-reinforcement”. Hacney & Cormier (1979) mengemukakan teknik self-monitoring, self-reward, self-contracting.Cormier & Cormier (1985) mengemuka-kan tiga teknik, yaitu self-monitoring, stimulus control, dan self-reward. Woolfolk (1995:226) mengemukakan teknik goal setting, recording and evaluation progress, self reinforcement.
Strategi ini effektif dan produktif dalam menangani aspek kognitif (Karoley & Kanfer, 1982).Pelatihan monitoring diri dapat meningkatkan penyelesaian tugas sekolah, perilaku belajar dan prestasi belajar (Susan et.al., 1998). Zimmerman (2000) menekankan bahwa model self-regulated learning menjadikan siswa akan lebih efektif ketika ia belajar dengan menyadari tujuannya secara penuh. Perumusan tujuan belajar yang spesifik, strategi pengajaran, prestasi dan umpan balik, hadiah yang menyertai perilaku efektif mengembangkan efikasi-diri (Schunk, 1995). Persepsi siswa akan kemajuan yang dicapai akan memperkuat efikasi-diri (Schunk, 1995).
Latar belakang SMA
Keragaman sekolah dalam beberapa aspek pendidikan selalu dijumpai, meskipun upaya pemerataan mutu pendidikan terus dilakukan. Secara formal pemerintah mengakui adanya keragaman tersebut, misalnya dengan adanya kategori atau klasifikasi sekolah: ada sekolah standar, sekolah mandiri, sekolah berstandar internasional (Depdiknas, 2008). Penilaian suatu sekolah dapat juga dilihat dari status akreditasi sekolah (PP. No 19 tahun 2005). Aspek-aspek yang dinilai dalam akreditasi adalah: kurikulum, proses belajar mengajar, administrasi dan manajemen, organisasi kelembagaan, sarana dan prasarana, ketenagaan, pembeayaan, peserta didik, peran serta masyarakat, lingkungan dan kultur masyarakat (Permendiknas No 52 tahun 2008). Masyarakat juga memiliki penilaian terhadap kualitas suatu sekolah, misalnya suatu sekolah yang berstatus akreditasi A dipandang lebih berkualitas dibandingkan sekolah lain yang status akreditasinya sama. Disamping itu suatu sekolah ada yang menyelenggarakan program pendidikan kusus bagi siswa yang berkemampuan tinggi, misalnya program akselerasi (UU. No 20 tahun 2003).
Keragaman sekolah tersebut akan mempengaruhi perilaku siswa disekolah, diantaranya terkait dengan efikasi-diri dalam belajar. Sekolah dengan pemenuhan standart pendidikan yang optimal atau pemenuhan komponen akreditasi yang optimal memungkinkan siswa mampu belajar dengan baik. Misalnya sekolah dengan kualitas yang tinggi dalam hal manajemen, proses belajar mengajar, masukan siswa, lingkungan dan kultur sekolah yang kondusif, memungkinkan siswanya lebih optimal dalam belajar, semangat berkompetisi tinggi, memiliki kompe-tensi belajar dan efikasi-diri dalam belajar, serta prestasi belajarnya lebih tinggi dibanding siswa yang berasal dari sekolah yang kualitas manajemennya kurang.
METODE PENELITIAN
Untuk memecahkan permasalahan tersebut dilakukan penelitian yang bersifat kuantitatif dengan pendekatan eksperimen.Penelitian ini dilakukan pada tahun 2011 sampai 2012. Populasi peneltian ini adalah siswa SMA berstandar, SMA mandiri, dan siswa SMA RSBI di Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel dengan purposive random sampling, dan anggota sampel penelitian sejumlah160 siswa SMA, yang berasal dari 46 siswa SMA N 1 Pengasih (berstandar), 60 siswa SMAN 1 Wates (mandiri), 54 siswa SMAN 2 Wates (RSBI). Disain penelitian, menggunakan metode kuasi eksperimen dengan rancangan Pretest-Postest Control-Group Design.Perlakuan dilakukan selama 7 kali pertemuan.Metode pengumpulan data dilakukan dengan angket, dan dokumentasi.Angket efikasi diri dalam belajar berbentuk skala dari Likert, dengan koefisien reliabilitas dengan teknik Alpha sebesar 0,867. Analisis data menggunakan analisis kuantitatif diskriptif (frekuensi, persentase, rata-rata, simpangan baku), dan uji keefektifan menggunakan teknik statistik analisis covarian. Kreteria penerimaan atau penolakan Ho adalah p= ≤0,05.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian
a.     Tingkat Efikasi-diri dalam belajar siswa SMA
Data tingkat efikasi=-diri dalam belajar siswa SMA, secara ringkas disajikan dalam tabel 1
Tabel 1. Skor Rata-rata dan Persentase Efikasi-diri
dalam Belajar Siswa SMA.
Variabel dan sub-variabel
Skor
Maks.
KELOMPOK KONTROL

Tes Awal
Tes Akhir
Pening-katan
1.    Efikasi Umum
192

123,85
(64,6%)
125,44 (65.8%)
1,6
1,2%

2.    Kesulitan
64
43
44
1

3.    Keragaman
64
38,8
39,4
0.6

4.    Kesuksesan
64
41
42
1


Variabel dan sub-variabel
Skor
Maks.
KELOMPOK EKSPERIMEN

Tes Awal
Tes Akhir
Pening- katan
1.    Efikasi Umum
192

123,25
(64,4%)
132,58
(70,2)
9,33
5,8%

2.    Kesulitan
64
43
46,5
3,5

3.    Keragaman
64
39
42,4
3,4

4.    Kesuksesan
64
41,25
43,7
2,24


Tabel 2. Dapat dijelaskan:
1)    Secara umum tingkat efikasi belajar siswa SMA pada kelompok kontrol tes awal sebesar 64,6%, pada tes akhir 65,8%, mengalami keanikan sebesar 1,2%. Pada kelompok eksperimen tes awal sebesar 64,4%, tes akhir sebesar 70,2%, mengalami kenaikan sebesar 5,8%. Hasil ini mengindikasikan layanan BK belajar dengan teknik manajemen-diri berpengaruh pada peningkatan efikasi-diri dalam belajar.
2)    Dlihat dari dimensi efikasi, yaitu keyakinan akan kemampuan dalam menghadapi tugas yang sulit, menghadapi tugas yang beragam, dan keyakinan akan sukses mencapai hasil maksimal: umumnya aspek efikasi yang lebih menonjol baik kelompok kontrol dan eksperimen ada pada aspek keyakinan mampu menghadapi tugas atau beban yang sulit, sedang yang paling rendah adalah keyakinan akan kemampuan menghadapi tugas yang beragam.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment